Bintang Kejora Part I

Hening.
Tak ada kata yang terucap dari kedua keturunan Adam yang terdiam di bawah temaramnya langit. Malam sudah tiba dan mereka masih menunggu munculnya bintang di Bukit Kejora. Sebuah tempat di dataran tinggi yang menampilkan lukisan alam yang indah melalui kombinasi antara titik-titik terang yang berasal dari lampu-lampu bangunan di kota, dengan bintang-bintang yang menghiasi langit.
Raut kecewa sempat menghiasi keduanya sebelum Tuhan berbaik hati untuk menyingkap sedikit awan yang nyaris menutupi seluruh permukaan langit di atas tempat mereka berpijak. Hingga kemudian Bintang dan Kejora, kedua keturunan Adam itu, tersenyum lega.
“Itu kamu. Bintang yang paling cantik.” Lirih Bintang, si pemuda. Ketika tangannya melingkar di leher gadis di sampingnya, lengan Bintang geli oleh sapuan halus rambut yang menjuntai melewati bahu.
Tapi Kejora si gadis menggeleng penuh keyakinan. “Bukan. Itu kamu. Bintang yang paling kuat. Bintang yang tetap bisa bersinar di antara bintang-bintang lain yang tertutup awan.”
Bintang tersenyum mengalah. Lagi pula penjelasan Kejora barusan menimbulkan kata-kata baru dari benaknya.
“Iya, itu aku. Yang akan selalu nemenin kamu sampai kapan pun. Aku janji. Bahkan ketika aku gak ada nanti, kamu bisa menatap bintang di mana pun, ditemenin sama aku.”
Mereka saling merangkul, saling membisikkan kata cinta dengan sebuah janji untuk selalu bersama. Selamanya.