Jangan Pernah Mematikan Harapan!

Tak pernah ada yang menyangka apa yang akan terjadi hari itu. Di ajang sebesar Lomba Ketangkasan Baris-Berbaris Bogor Open ke-20, kami PASSUS MANDAPA datang dengan dominasi pesimistis. Bagaimana bisa? Beberapa minggu sebelumnya, di Lomba Ketangkasan Baris-Berbaris yang diselenggarakan oleh Paskibra Bima Karsa, kami hanya mampu menempati posisi 10 dari 10 peserta!!! Perjalanan selama latihan persiapan LKBB Bogor Open pun menjadi alasan mengapa kami menjadi pesimis.
Tapi pesimis bukan berarti menyerah. Mereka, anggota pasukan yang berjibaku langsung di lapangan, serta pihak-pihak yang ikut melatih tetap tak berhenti berusaha. Sebagai salah satu alumni, saya tetap tak menyurutkan sedikit pun dukungan kepada mereka. Saya percaya teman-teman purna/alumni lain pun begitu. Baik atau buruk, kami tetap cinta pada PASSUS MANDAPA.
Memasuki arena GOR Pajajaran, yang paling pertama saya ingat adalah final LKBB Bogor Open. Karena sepanjang yang saya tahu, Purna Paskibraka Indonesia Kota Bogor biasanya mengadakan final LKBB di GOR Pajajaran sementara babak penyisihannya diselenggarakan di Plaza Balaikota Bogor, yang lantainya terkenal angker bagi anggota Paskibra yang pernah merasakan ketatnya perlombaan tahunan itu. Tapi ketika memasuki hall basket dan melihat penonton yang tak begitu ramai, barulah saya menyadari kalau ini bukan final. Belum. Tahun ini penyelenggaraan dibalik dari biasanya. Sekarang babak penyisihan diadakan di GOR Pajajaran, sementara final di Plaza Balaikota.
Sebelum Passus Mandapa tampil dengan nomor urut terakhir, 13, di grup A, saya dan sebagian besar teman-teman 15 yang lain menyempatkan untuk menyaksikan penampilan lawan-lawan kami. Well, saya tidak berani berkomentar karena pasukan kami belum tampil. Sayangnya, saya dan juga teman-teman yang lain tak sempat menyaksikan penampilan pasukan-pasukan yang biasa diunggulkan setiap tahun.
Peserta dengan nomor urut 13, dari MAN 2 Kota Bogor muncul di sudut kanan tribun tempat saya dan pendukung Mandapa lainnya duduk. Rasa deg-degan mulai menjalar. Beberapa saat sebelum Pasukan Mandapa memasuki hall, ada beberapa teman 15 yang menelpon dan mengirimkan pesan untuk menanyakan bagaimana penampilan pasukan kami, apakah pasukan kami sudah tampil. Mereka berhalangan hadir karena kesibukan dan jarak. Tapi itu tak membuat mereka kehilangan kepedulian dan menyurutkan dukungan untuk Passus Mandapa.
Gerakan demi gerakan diperlihatkan pasukan yang terdiri dari angkatan 17 dan 18 dengan cantik. Mereka bermain rapi sekali. Meskipun dari kacamata awam saya, powernya masih kurang. Dan kalau boleh saya mengomentari penampilan komandan dan MC, I will. Saya yang bukan ahli di bidangnya, hanya bisa melihat kalau pada dasarnya suara MC sudah bagus, tapi power masih menjadi masalah. Dan intonasinya masih terlalu patah-patah. Belum mengalir. Begitupun dengan Komandan yang bukan bidang saya, saya melihat suara komandan sudah bagus sekali. Tapi sikap yang ditunjukkan belum setegas komandan yang seharusnya.
Kami para pendukung Mandapa dengan keterbatasan sumber daya manusia yang hadir saat itu, cukup berhasil membuat ‘gaduh’ hall basket di saat-saat yang tepat. Tentu pada saat pasukan membutuhkan konsentrasi lebih untuk mendengarkan intruksi dari komandan, suara-suara kami hentikan. Setelah pasukan selesai, kami keluar hall dengan perasaan puas. Minimal ada rasa optimis yang menyusup setelah melihat penampilan Mandapa. Bahkan saya dengar, ada peserta dari tingkat SMP yang mengatakan, “Peserta dari tingkat SMA yang bagus baru nomor 13 doang!”. Saya hanya tersenyum mendengarnya dan tak berani berharap lebih jauh.
Karena Mandapa tampil dengan nomor urut terakhir, maka tak butuh waktu lama bagi kami menunggu pengumuman. Setelah saya dan teman-teman makan dan shalat Maghrib, kami kembali ke hall untuk mendengarkan pengumuman yang membuat gugup.
Peserta yang lolos tingkat SMP telah selesai dibacakan. Jujur saya tidak begitu menyimak karena ingin segera mengetahui hasil dari tingkat SMA. Dan... jeng...jeng....jeng...jeng... tibalah saatnya.
Nama Tri Dharma disebut paling pertama oleh ketua panitia. Itu berarti, Tri Dharma berada di urutan ke-5. Well, prediksi saya dan teman-teman sebelumnya agak meleset. Dan kami masih diliputi rasa deg-degan dan optimistis yang tersisa entah seberapa besar. Beranjak ke posisi 4, SMA Negeri 9 Bogor yang dipanggil. Saya, dan mungkin teman-teman yang lain mulai shock. Sebelumnya sudah ada kabar kalau 9 mendapatkan pengurangan poin, kalau ternyata 9 masih lolos, mungkin persaingan berjalan begitu ketat. Menuju posisi ke-3, kami mulai galau karena yang disebut adalah SMA Negeri 2 Bogor. Salah satu sekolah yang sangat diperhitungkan sejak tahun-tahun sebelumnya. Optimistis saya perlahan mulai turun dan nyaris hilang ketika SMA Negeri 7 disebut sebagai peserta dengan peringkat ke-2 yang lolos ke final. Saya pikir, selesai sudah. Tak akan ada final bagi Mandapa tahun ini. Sempat saya melirik teman-teman di belakang. Dan yang tertangkap dari kacamata saya, mereka sama hopeless-nya dengan saya. Lesu. Tapi meskipun saya sudah setengah hati mendengarkan, pengumuman tetap berjalan. Nama sekolah yang paling terakhir dipanggil, sudah otomatis menjadi pemuncak Grup A yang lolos ke final. Sekolah yang masih misterius bagi saya dan seisi hall karena ketua panitia begitu lama menyebutkannya. Setengah tidak percaya, huruf pertama yang terdengar adalah M. Dan yang berpeluang hanya MAN 1 Bogor, dan MAN 2 Bogor. Dalam waktu yang terlalu singkat untuk berspekulasi, kami akhirnya mendengar nama MAN 2 Bogor yang dipanggil, sebagai juara Grup A!
Saya dan teman-teman yang lain tentunya, bersorak kegirangan. Meneriakkan nama MAN 2 dengan lantang karena begitu bangganya. Tapi ini kan baru fase grup? Final masih ada di depan mata. Lalu kenapa kami bisa begitu girang? Saya berspekulasi begini, menjelang perlombaan, kami sama sekali tak mengharapkan juara grup. Dengan keadaan pasukan yang seperti itu, lolos ke final dengan peringkat ke-5 saja kami pasti sangat bersyukur. Dan setelah melihat pasukan yang tampil bagus, rasa optimis kami mulai meningkat. Tapi tetap bukan sebagai juara grup. Karena ada tim-tim unggulan lain yang tak kami lihat penampilannya. Lalu ketika MAN 2 Bogor dipanggil sebagai juara grup A, meledaklah rasa yang tercampur aduk. Antara senang, bangga, tak menyangka, tak percaya, dan lain-lain.
Anyway, belum saatnya untuk berbangga hati. Masih ada final di depan mata. Pertandingan yang sesungguhnya. Tapi satu hal yang saya pelajari. Allah melalui kejadian pada hari Jumat tanggal 7 Januari 2011 itu telah menunjukkan bahwa jangan sekali-sekali kita mematikan harapan. Apa pun bisa terjadi bahkan pada detik-detik terakhir. Hal ini seperti cambuk untuk diri saya sendiri. Bahwa saya masih bisa menjadi orang yang berguna, orang yang membuat orang lain bangga terhadap saya. Saya yakin, dan saya tidak boleh mematikan harapan itu.

*kalo ada yang salah tolong diralat ya? ;)